Jumat, 15 Januari 2016

Indonesia, Surga di Dunia








Apa kabar semuanya..maaf sudah lama sekali tidak update blog ini hehe meski yang baca dikit tapi aku tetap menyapa kalian semua.
Kali ini aku mau bahas tentang Indonesia.  Seperti yang aku tulis sebagai judul tulisan kali ini, Indonesia surga di dunia. Aku akan cerita kenapa aku sebut Infonesia sebagai surga di dunia ini. Tapi sebelum lebih jauh, aku ingin memberi tahu kalau aku menulis ini dari sudut pandang aku yang seorang muslim. Tidak berarti semua yang aku bahas serba bernuansa Islami tapi sebagian memang ada hubungannya dengan Islam.

Aku sekarang tinggal untuk sementara di Jepang karena sedang menuntut ilmu. Aku suka sekali Jepang, aku yakin dari kalian juga banyak yang suka Jepang, jadi aku mengambil keputusan untuk menuntut ilmu di negeri matahari terbit ini. Kebetulan aku tinggal di Tokyo, ibu kota Jepang. 
Seperti kebanyakan ibu kota negara lainnya, bukan hanya orang Jepang saja yang ada dan tinggal di Tokyo, tetapi juga dari berbagai negara. Orang asing yang paling sering ditemui tentu saja orang dari negeri tirai bambu. Warga dari negara dengan penduduk paling banyak di dunia itu memang bisa ditemukan di mana saja ya hehe. Selain itu yang banyak dari Vietnam, Nepal, ataupun Korea. Meski tidak terlalu banyak tapi warga dari negara lain juga ada, misalnya yang aku pernah tahu adalah dari negara-negara Eropa, Amerika, Australia, serta negara-negara Asia lainnya.
Aku berkesempatan bertemu banyak orang dan bertanya banyak hal tentang negara ataupun budaya mereka. Menarik sekali. Aku sudah merasakan diversity ketika di Indonesia karena suku bangsa di Indonesia adalah yang paling beragam di dunia, jadi aku tidak terlalu kaget ketika bertemu dengan penduduk negara lain. Hanya saja bahasa adalah kendala nomor satu. Meski sama-sama tinggal di Jepang, bahasa Jepang kami adalah bahasa Jepang dengan pola pikir asal negara kami masing-masing. Belum lagi kami belum menguasai bahasa Jepang dengan baik. Tetapi karena semua warga asing terlihat terbiasa dengan itu semua, mereka tidak terlalu ambil pusing.
Hidup di Jepang, bagi saya yang seorang muslim, tentu tidak mudah. Ada banyak sekali pantangan, cobaan ataupun pertahanan yang aku alami. Dari pada itulah aku bisa bilang kalau Indonesia adalah surga di dunia, dari point of view aku sebagai seorang muslim.
1. Makanan 
    Seperti yang diketahui bahwa umat Islam haram atau dilarang untuk makan daging babi. Berlawanan dengan umat Islam, orang Jepang mengkonsumsi daging babi. Hampir seluruh makanan yang ada di Jepang mengandung daging babi. Oleh karena itu ketika membeli makanan aku selalu melihat bahan makanan itu, apakah ada kandungan babinya atau tidak. Semua makanan harus dicek karena tak jarang es krim ataupun roti pun mengandung babi. 
    Aku sendiri akhirnya memutuskan untuk masak sendiri untuk makan. Untung di Okubo, tak jauh dari Shinjuku, terdapat toko yang menjual bahan masakan dari Indonesia dan juga tersedia daging-daging halal. Aku merasa sangat terbantu. 
    Oleh karens itu tentu saja tinggal di Indonesia jauh lebih aman dan praktis untuk mencari makanan halal.
    
2. Ibadah
    Umat muslim melakukan ibadah solat sebanyak 5 kali dalam sehari. Untuk melakukan ibadah solat diperlukan tempat yang bersih dan air untuk mensucikan diri, meskipun tidak dengan airpun dapat menyucikan diri. Ketika kita tinggal d Jepang, kita akan sulit untuk melakukan ibadah solat. Karena memang tidak ada fasilitasnya. Masjid yang ada di Tokyo sedikit sekali jumlahnya. Di sekolah, kantor ataupun rumah sakit juga tidak ada tempat untuk melakukan ibadah solat.
    Waktu untuk ibadah solatpun sulit di sini. Di Indonesia setiap tiba waktu untuk ibadah solat kita bisa mendengar suara adzan berkumandang dari berbagai penjuru. Di Jepang kita tidak bisa mendengar suara adzan seperti itu. Untuk mengetahui waktu ibadah solat aku menginstall applikasi khusus di hp. Di Indonesia kita tidak perlu applikasi seperti itu. 
   Ketika kita bekerja kemudian masuk waktu ibadah solat, kita tidak bisa dengan mudah minta ijin untuk melakukan ibadah. Kita tidak boleh melakukan itu selain waktu istirahat kerja. Selain itu meskipun ada waktu tapi tidak ada tempat untuk melakukannya.
   Bandingkan dengan Indonesia. Ketika masuk waktu solat kita tinggal minta ijin untuk ibadah dan kita bisa menemukan tempat ibadah di dalam tempat kerja. Kalaupun tidak ada kita bisa mencari masjid atau musholla yang ada di banyak tempat.

3. Hijab 
    Wanita muslim di wajibkan untuk menutup auratnya dengan pakain tertutup, memakai hijab. Di Indonesia itu sudah lazim dan umum, namun di Jepang tidak seperti itu. Sedikit sekali wanita berhijab. Kalaupun ada yang memakai hijab itupun kebanyakan bukan orang Jepang melainkan wanita pelancong dari negara lain. Aku pernah dengar ada seorang wanita Indonesia yang mendapatkan pekerjaan di Jepang. Wanita itu berhijab, namun ketika bekerja dia memakai pakaian biasa minus hijab, karena memang di Jepang tidak diperbolehkan bekerja dengan berhijab. Wanita itu akan kembali berhijab ketika pulang ke rumah ataupun melakukan aktifitas biasa selain bekerja. Melihat hal itu aku merasa kasihan sekali. Enak sekali tinggal di Indonesia kita bisa memakai hijab kemanapun kita berada.

4. Kerukunan beragama
    Kerukunan umat beragama di Indonesia sangatlah membanggakan. Umat antar agama saling menghargai, menghormati dan mendukung satu sama lain. Di Jepang yang kebanyakan penduduknya tidak beragama, kerukunan umat beragama seperti itu jarang ditemui. Bukan berarti orang Jepang bukan orang yang baik, tapi karena lebih tepatnya mereka tidak mengurusi urusan orang lain. Itu adalah salah satu karakter orang Jepang terutama yang tinggal di Tokyo. Mereka sebisa mungkin untuk tidak mencampuri urusan orang lain dan tidak mengganggu orang lain. Kalau seperti itu di Indonesia pasti akan dikatakan dingin ataupun sombong. Orang Jepang baik dan ramah tapi untuk orang yang tidak dikenal atau belum terlalu dikenal mereka tidak terlihat seperti itu.
    Karena kebanyakan tidak mau mencampuri urusan orang lain, tidak ada budaya seperti di Indonesia yang setiap hari besar agama akan saling mengunjungi rumah saudara, tetangga untuk mengucapkan selamat. Orang Jepang selalu mengucapkan selamat hari natal setiap tahunnya namun bukan sebagai agama, tapi hanya sekedar meniru budaya orang barat yang kebanyakan umat Kristiani dan merayakan natal setiap tahunnya.
       Mungkin tak banyak yang tahu kalau orang Jepang sangat mengagumi orang barat. Bagi orang Jepang yang dikatakan orang asing itu adalah orang dari barat atau jika di Indonesia kita mengatakannya orang bule. Itu dikarenakan dari sejarah Jepang ketika orang asing pertama yang datang ke Jepang adalah orang barat. Pola pikir tentang orang asing adalah orang barat itu tertanam di kepala orang Jepang. Baru belakangan ini saja ketika banyak orang asia lain yang datang ke Jepang, mereka mulai membuka diri dan mulai memahami bahwa orang asia juga orang asing. Kalau kalian tinggal di sini, bukan hanya sebagai pelancong yang tinggal beberapa hari di sini, kalian akan tahu dan merasakan perbedaan itu.
     Karena orang Jepang mengagumi orang barat, mereka ikut menirukan budaya mereka, apalagi budaya yang membuat bahagia. Salah satunya adalah perayaan natal. Ketika merayakan natal orang Jepang akan makan kue tart ataupun ayam dan merupakan momen untuk berkumpul bersama keluarga dan saling mengucapkan selamat hari natal meskipun mereka tidak merayakannya secara agama.
    Orang Jepang sangat menghargai privasi orang lain. Ketika mereka tahu kita sedang melakukan sesuatu yang berhubungan dengan agama dan tidak mengganggu mereka, mereka akan sangat menghargai, misalkan ketika sedang beribadah puasa. Ketika kita mengatakan tidak bisa makan karena puasa, mereka akan mengerti dan tidak terlalu mempersoalkan tentang hal itu. Berbeda dengan orang dari negara lain yang kadang aku rasa berisik dengan banyak bertanya mengapa kita sampai mau melakukan hal yang membuat kita menderita lapar seperti itu. Tidak jarang pula mereka menyuruh kita untuk menyudahi puasa dan makan saja. Ataupun terkadang mereka akan menggoda dengan makan di depan kita. Itu pernah terjadi pula padaku.
     Selain itu ada pula kejadian yang dapat kita lihat di negara India baru-baru ini. Seorang muslim di sana diperlakukan dengan tidak baik karena kedapatan membawa daging sapi. Sapi memang dewa bagi umat Hindhu di India, namun memperlakukan orang lain seperti itu bukan hal yang baik. Di Indonesia meskipun mayoritas umat Muslim, tidak makan babi, mereka tidak melakukan hal buruk pada orang yang  makan daging babi. Kerukunan seperti itu benar-benar kelebihan Indonesia.  
    Senangnya di Indonesia tidak terjadi hal seperti itu.
  
5. Ketenangan hati
    Hal paling penting adalah ketengan hati. Seaman apapun, seindah apapun Jepang, bagiku Indonesia tetap yang terbaik. Aku merasa tenang di Indonesia meskipun banyak yang mengatakan lebih enak tinggal di Indonesia. Aku juga pernah mengatakan hal seperti itu sebelum pergi ke Jepang akan tetapi sekarang ketika tinggal di negara orang lain, aku sangat merasakan perbedaan hati ini. Memang tinggal di Indonesia jauh lebih menyenangkan dari pada di negeri orang lain.

Nah itulah beberapa alasan yang telah aku paparkan tentang mengapa aku bisa bilang kalau Indonesia adalah surga di dunia dari sudut pandang orang Islam berdasakan pengalamanku tinggal di luar negeri, Jepang.
Mungkin adaa yang setuju dengan pendapatku dan pasti ada yang tidak setuju. Apapun pendapat anda aku sangat menghargainya. Aku hanya mengutarakan apa yang aku rasakan selama ini dan ingin berbagi dengan anda semua. 
Terima kasih sudah membaca....^^ 



Rabu, 04 Februari 2015

Benang Merah dengan Studio Ghibli


Halooo....long time no see 😄😄 
Rasanya sudah lama sekali tidak nulis d blog ini hehe kangeennn
Kali ini aku akan cerita tentang benang merah antara aku dengan studio anime favoritku yang tak lain adalah Studio Ghibli hehe..
Ceritanya Januari kemaren keponakanku maen ke Tokyo sama teman-temannya, trus dia ada satu hati free dan maen bareng aku. 
Kebetulan keponakan satu itu seorang ilustrator dan suka banget sama Studio Ghibli juga. Dia ingin sekali melihat seperti apa kantor Studio Ghibli. Jadi aku antar dia ke Higashi Koganei, tempat kantor itu. Dia senang sekali dan beberapa kali foto di depannya. Sebenarnya aku tahu orang Jepang tidak suka hal seperti itu, tapi melihat dia senang sekali aku tidak mau membuatnya sedih meskipun akhirnya kami diusir secara halus si hehe..
Setelah itu aku ajak dia pergi k Koganei Koen ( Taman Koganei). Taman itu terkenal sebagai salah satu tempat melihat bunga sakura (Hanami). Di taman itu juga ada museum, namanya Edo-Tokyo Open Air Architectural Museum. Ceritanya di museum itu guru besar Miyazaki Hayao mendapat inspirasi dan menggambar sketsa untuk anime keren Spirited Away. Udah pada lihat khaann 😊😊
Beruntung sekali di sana pas ada pameran karya Studio Ghibli dan sudah bisa di pastiin keponakanku sueneng gila hihihi...
Nah ini aku kasih beberapa foto waktu itu

Ini poster pamerannya.

Beruntung lagi yellow plumnya pas lagi mekar. Cantikkk seperti sakura tapi warnanya kuning. Kalau bunga ini wangi, sakura tidak begitu berbau.
Nah kalo d bawah ini baru tempat Miyazaki Hayao mendapat insipirasi buat anime Spirited Away.


Lalu ini ada kereta yang dipakai di jaman edo, dalamnya mirip sama kereta yang ada di Spirited Away.


Rasanya senaaang sekali waktu itu.
Semoga lain kali bisa ada momen benang merah lagi. Bertemu sang master Miyazaki Hayao misalnya hehe ngarep banget... 😝
Ok deh sampai sini dulu sharenya..
See u next time 
Byeeeee

Kamis, 08 Januari 2015

Rumah Awan 14 : Lintang



LINTANG

Kemarin memang hari tersialku dan kuharap, hari ini tidak seperti kemarin.. Pagi ribut sama Mama dan Kak Bintang nyebelin banget. Di sekolah aku ribut lagi sama Faya. Bahkan di Rumah Awan pun, tempat yang paling enak untuk menenangkan diri, aku juga mengalami kesialan. Ada cowok yang rese banget! Dia sudah mengotori kaos kesukaanku dan juga merusak lukisanku yang aku buat dengan serius. Lalu, begitu sampai rumah, aku dimarahi habis-habisan sama Mama. Aku dapat hukuman tidak dapat uang jajan bulan ini dan yang paling parah, aku tidak boleh main ke Rumah Awan!!!
Dari mana sih Mama tahu aku sering main ke sana? Pasti dulu sebelum pergi Kak Stary kasih tahu Mama kalau aku suka main ke sana.
“Na, udah minta tanda tangan buat surat izin study tour belum?” tanyaku pada Nana yang asyik menyalin alias menyontek PR matematikaku.
“Belom,” jawabnya sambil terus menulis. “Bukannya batas waktu ngumpulinnya masih lama? Sampe hari pertama UAS, minggu depan khan?””
“Iya sih.” kataku sambil memperhatikan teman-teman yang asik ngobrol di luar. “Na, minggu depan udah ujian semester, cepet banget ya.”
“Iya, aku belum siap mental nih, Lin.”
Di depan kelasku ada taman sekolah yang dikelilingi deretan kelas satu, dua, tiga serta ruang guru yang membentuk persegi. Beberapa anak terlihat larut dalam obrolan seru mereka. Salah satu dari mereka ada Tino dan juga Andi, mantan ketua OSIS SMA Erlangga.
“Na, si Andi kenal  Tino ya?”
“Iya, emang kamu nggak tau?”
“Nggak.” jawabku. Tino baru saja memukul lengan Andi cukup keras.
“Lho, kok tiba-tiba nanyain Tino? Mulai naksir ya?” Nana tersenyum jahil.
“Ngaco!”
“Kamu tuh ke mana aja sih Lin?” Nana menatapku. “Masa gitu aja nggak tau, mereka khan sudah temenan dari kelas satu.”
“Ooh...”
Ngomongin soal Tino dan Andi membuatku teringat soal cowok kemarin. Dia mengikutiku berjalan sampai rumah. Salah satu kebiasaan burukku yang ingin banget aku hilangin adalah linglung saat aku sedih atau bingung seperti kemarin. Aku bisa seperti orang mabuk yang tidak sadar diri dan melakukan hal-hal diluar keinginanku jika sudah seperti itu. Cukup merepotkan juga.
Apa yang kulakukan sampai dia mengikutiku terus? Semoga bukan hal yang aneh. Di saat linglung seperti kemarin aku sulit mengendalikan diri.
Tapi aku masih ingat dia bilang akan ganti kaos Winnie the Poohku, kalau perlu dia ganti sebanyak sepuluh, dan juga lukisanku. Aku yakin dia tidak akan melakukan itu. Dia pasti mengatakan itu hanya untuk membuatku berhenti menangis.
“Na, tadi pagi aku udah ijin kalo ntar pulang sekolah aku mau main ke rumahmu, ntar kalo ditelepon Mama ato Kak Bintang bilang aja aku di rumahmu ya?” kataku.
“Lho, terus kamu mau ke mana?”  Nana membalikkan bukuku, dia sudah nyalin setengah halaman.
“Ke Rumah Awan.”
“Katanya nggak boleh ke sana?”
“Biarin. Pokoknya aku pingin ke sana hari ini.”
“Tumben kamu tidak nurut Mamamu?” Nana menoleh padaku. “Lagipula tumben juga Mamamu kasih ijin padahal kamu lagi kena hukuman.”
“Aku merengek terus ke Mama, berjam-jam! Mungkin mama capek dengarnya terus kasih ijin.” aku tersenyum.
Nana ikut tersenyum. “Kok kamu ngotot banget maen ke sana?”
“Pengen aja.”
Nana meletakkan pensilnya lalu sedikit menggeser tubuhnya agar berhadapan denganku. “Lin, kamu kena hama apaan sih?”
“Hah? Hama? Emang aku padi apa, kena hama ulat.”  protesku.
“Hehehe..” Nana tertawa. “Bukan gitu Lin, tumben aja kamu nggak nurut Mamamu.” katanya setelah berhenti tertawa.
Keliatan banget ya kalau aku selalu nurutin Mama?
Aku narik nafas panjang. “Semalam aku mikir banyak, lalu aku putusin aku akan ngelakuin hal yang memang bener-bener dari hatiku, bukan paksaan dari orang lain, termasuk Mama.”
Nana manggut-manggut. Entah apa yang dia pikirkan, mukanya datar tanpa ekspresi.
“Aku nggak mau terus-terusan dikendaliin Mama dengan semua keinginannya agar aku jadi seperfect Kak Stary. Aku khan tidak mau jadi kayak dia.”
Nana tersenyum menggoda. “Jadi, udah mau pacaran dong?” lalu dia menunjuk Tino yang sedang mendribel bola basket. “Dulu kamu nggak boleh pacaran sama Mamamu, trus sekarang khan beda, kenapa nggak nyoba pacaran sama Tino aja?”
Kok tiba-tiba jadi bahas masalah cowok?
“Nggak ah.”
“Loh, kenapa? Dia khan suka banget ma kamu, cakep lagi.” Nana memuji Tino.
“Aku nggak suka Tino, Nana.” aku mencubit tangannya, dia mengaduh keras.
“Kamu khan udah kelas tiga Lin, masa nggak mau pacaran?”
Aku mencubitnya lagi, Nana hanya tertawa. “Udah sana terusin nyalin peernya.”  
Nana terus tertawa dan lupa kalau dia belum selesai menyontek PRku. Dia merubah wajahnya jadi lebih serius. “Tapi kenapa harus ke Rumah Awan, main aja beneran ke rumahku.” tawar Nana. “Ntar kalo ketahuan khan bisa gawat.”
“Biarin aja, aku nggak peduli.” kataku setengah teriak, senang karena entah kenapa aku mendapat semangat menantang bahaya. “Oh ya, aku juga bilang kalo kamu ntar yang nganterin aku pulang. Jadi nanti kalau ditanyain kamu bilang aja gitu ke mereka, Na.”
“Iya.” Nana sudah kembali sibuk menyalin PRku.
“Satu lagi Na, ntar kamu nganterin aku ke Rumah Awan dulu ya?”
“Nih anak banyak banget sih mintanya.” ujar Nana pura-pura kesal. “Tapi kalo buat kamu apa sih yang nggak.”
“Dasar.” Kami berdua tertawa.
Bel tanda istirahat habis berbunyi. Bel ini membuat Nana jadi uring-uringan. Soalnya, dia belum selesai menyontek PR matematikaku, dan sebentar lagi Pak Imron yang terkenal ontime itu pasti datang ke kelas. Nana menulis dengan cepat. Satu soal logaritma, yang kebetulan sulit, yang harusnya dikerjakan dalam enam baris hanya ditulisnya dalam tiga baris. Nana sepertinya tidak peduli asal bisa cepat selesai.
Sesaat sebelum Pak Imron masuk kelas, Tino masuk duluan. Dengan sengaja dia lewat di depanku, lalu memamerkan senyum terlebarnya.
“Lin, si Tino mulai caper tuh.”
Aku menoleh kaget ke Nana. Perasaan tadi masih sibuk. “Udah selesai Na?”
“Hehe, udah dong!” dia nyengir senang. Liat saja kalo Pak Imron tau PRnya, dia pasti tidak bisa sebahagia ini.
Benar saja, Pak Imron menyuruh Nana mengerjakannya di depan setelah mengetahui kecurangannya. Nana langsung pucat, ketakutan, aku jadi tidak tega melihatnya.
“Hiks..hiks... Aku malu banget Lin!”
Sekarang, aku dan Nana sudah ada di mobilnya, kami dalam perjalanan meluncur ke Rumah Awan. Nana terus menangis dari tadi, matanya sampai  merah. Aku mengelus-ngelus rambutnya. Tadi dia cukup lama berdiri di depan kelas, mencoba menjawab soal logaritma yang ada di PR kami, tapi dia tidak bisa. Hasilnya, dia kena marah Pak Imron karena ketahuan mencontek. Nana yang memang takut pada Pak Imron nangis di depan kelas. Dulu aku pernah tanya Nana, apa yang ditakutkannya dari Pak Imron, perasaan orangnya baik, bukan tipe guru  killer juga. Ternyata dia takut sama alis lebatnya Pak Imron. Aku langsung tertawa sampai perutku sakit waktu itu.
“Iya, udah ntar aku cukurin alisnya Pak Imron ya?” hiburku sekenanya.
Nana yang tadi meluk aku langsung melepaskan diri. “Aku malu Lin, bukannya takut sama Pak Imron.” dia menghapus air matanya dengan kasar.
“Iya, iya, udah jangan nangis lagi.”
“Kalo tahu gini kemarin aku pasti ngerjain peer sendiri.”
“Nah, gitu dong. Harusnya kamu memang ngerjain PR sendiri.”
“Tapi aku nggak bisa, sulit banget...” air matanya keluar lagi. Ya ampun, semoga cepat sampai Rumah Awan. Nana kalo nangis minimal dua jam baru berhenti.
“Na, udah nyampe nih, aku turun dulu ya?” kataku melepas tanganku yang dipegangnya kuat. Tadi dia sandaran di bahuku dan terus memegang tanganku. Kayak aku pacarnya saja.
Nana mengangguk. “Da dah...!” aku melambaikan tangan lalu mobil jemputan Nana pergi.
Aku sangat kaget begitu membalikkan badan aku melihat cowok yang kemarin sedang duduk di tangga gapura Rumah Awan. Hampir saja aku teriak melihatnya. Sedang apa dia di sini? Baru kali ini aku lihat ada orang duduk di situ, menghalangi jalan masuk. Kejadian tidak mengenakkan kemarin langsung memenuhi kepalaku. Lalu aku mengatur nafas agar tenang, tidak boleh emosi.
“Permisi, aku mau lewat.” kataku. Dia tetap duduk dan malah terus melihatku. Hiiii! Matanya serem! Dia pasti mau balas dendam padaku. Tapi balas dendam apaan? Kemarin aku khan tidak ngapa-ngapain dia? Malah dia yang merugikanku.
“Gue nggak nemuin kaos kayak punya lo.” katanya.
Aku hanya diam, bingung.
“Lo beli kaos itu di mana? Ntar gue beliin di tempat lo beli.”
Ah! Aku tahu sekarang, dia kemarin janji akan mengganti kaos dan lukisanku. Ya ampun, kok bisa lupa sih.
“Aku nggak tau belinya di mana,” kataku. “Papa yang beliin.” tambahku cepat.
“Terus, gue harus gimana biar lo hapus foto gue dari HP lo dan nggak lo laporin ke om lo yang polisi itu?” cowok itu berdiri. “Gue nggak bisa gantiin kaos sama lukisan lo.”
Oh....itu alasannya kenapa kenapa dia tiba-tiba ada di sini. Padahal aku tidak berpikiran sejauh itu kemarin. Aku hanya becanda soal polisi itu. Aku tidak punya om atau saudara yang kerja di kepolisian. Dia serius menanggapi candaanku. Sepertinya dia tidak tahu kebenarannya.
Hem... Bisa dimanfaatin nih hehe...
Tiba-tiba ide usil muncul kepalaku. “Ganti dong, kamu khan harus tanggung jawab.”
“Tapi gue nggak nemuin kaos kayak punya lo.”
“Cari lagi, toko baju ada banyak, masa udah kamu datengin semuanya?”
“Gue juga udah minta tolong temen-temen gue, lagian masa gue harus keliling Indonesia buat nyari kaos lo?”
“Pokoknya aku tidak mau tahu, kamu harus ganti.” seruku. “Ah, lukisanku juga.
“Gue mau ganti, tapi gimana?” mukanya terlihat agak kesal. “Lagian lukisan lo gimana gantinya?”
Benar juga.  Bagaimana caranya?
“Karena kamu udah di sini, kamu harus ngelukis apa yang kulukis kemarin.” Aku jadi ingin tertawa melihat reaksinya. Mulutnya terbuka lebar lalu membuka menutup seperti ikan mas di rumah Nenek.
“Gue nggak bisa ngelukis, yang lain aja.” tawarnya.
Aku ngeluarin HP. “Yaudah kalo tidak mau, jam segini Omku lagi di kantor polisi lo.” kataku cuek sambil memencet HP. Dia gelagapan, maju ke depan untuk menyambar HPku tapi aku lebih cepat menghindar lalu memasukkannya ke saku rok seragam. “Mau tidak?” tanganku masih di dalam saku.
Dia mengacak-acak rambutnya lalu teriak marah. “Terserah lo.”
Aku tersenyum dengan penuh kemenangan. “Ayo, masuk ke dalam.” aku masuk ke dalam Rumah Awan, dia mengikutiku.
“Kamu tunggu di sana.” tunjukku ke pojokan, di bawah pohon bunga kamboja putih, tempat aku melukis kemarin.
Aku mengamati seluruh isi Rumah Awan, mencari Mbak Ayu tapi tidak ada. Lalu aku menghampiri Dani yang duduk di depan Awan, dia mengamati Awan dengan tenang. Rupanya bukan hanya aku saja yang suka memandangi awan seperti ini. “Dan, Mbak Ayu ke mana?” tanyaku sambil ikut melihat Awan.
Dani menoleh padaku lalu duduk di tempat yang biasanya dipakai Mbak Ayu untuk bekerja. “Katanya tadi lagi nggak enak badan trus pulang.”
“Oh...”  Aku manggut-manggut paham. “Eh, Dan, kemarin ada lukisan ketinggalan di pojok sana nggak?” aku menunjuk tempat di mana cowok tadi sedang duduk dengan santainya di bawah. Apa tidak takut jinsnya kotor?
“Tadi pagi ada sih, tapi udah sobek-sobek.”
“Sobek-sobek?” perasaan kemarin masih utuh waktu  aku tinggal.
“Iya, gue nemuin dua kucing di atasnya.”
“Kerjaan kucing pasti. Terus lukisan itu sekarang di mana?” tanyaku.
“Di gudang.” jawab Dani menunjuk arah gudang dengan dagunya.
“Makasih Dan.” aku pergi mengambil lukisanku yang rusak parah. Kuamati dengan seksama, ada banyak bekas cakaran kucing dan lubang besar di tengah. Parah....
Setelah mengambil peralatan lukis aku segera menghampiri cowok tadi. Aku memberikan semua peralatan itu juga lukisanku ke tangannya.
Dia mengangkat dan mengamati lukisanku kemarin dengan muka jijik. “Apaan nih?” katanya. “Jelek banget.”
“Itu lukisanku kemarin.”
“Terus?”
“Kamu harus gambar persis kayak itu.” aku duduk di depannya.
“Gue nggak bisa niru lukisan jelek kayak gini. Lagian gue nggak bisa ngelukis. Pegang kuas aja nggak pernah.” dia berdiri. Mungkin maksudnya yang jelek adalah kondisi kanvasnya, tapi aku merasa di hina mendengarnya. Seumur hidup belum pernah ada yang bilang gambar atau lukisanku jelek.
“Udah, jangan protes, cepet kerjain!” bentakku lalu mengambil botol air mineral yang ada di tasku.
Aku meminum airku sementara cowok itu mulai melakukan tugasnya. Meskipun terlihat ogah-ogahan dia tetap melakukannya. Bagus.
Ah....Rasanya segaaar sekali minum air putih di saat cuaca panas seperti ini.
Aku memperhatikan cowok itu. Dia terlihat kesulitan melakukannya. Caranya memegang kuas aneh dan terlihat tidak nyaman, seperti anak kecil yang baru belajar nulis. Lalu saat dia mencet cat minyak ke palet, tangannya langsung terkena cat karena dia terlalu kuat  mencetnya. Tingkahnya saat melukis juga  sangat lucu. Keliatan sekali  kalu dia jarang, atau bahkan tidak pernah melukis seperti yang dia katakan tadi.
Melihatnya seperti itu membuatku, tanpa sadar, tertawa sampai perutku sakit, apalagi saat tangannya yang terkena cat menyentuh bagian bawah hidungnya. Sekarang dia punya kumis warna merah. Belum apa-apa sudah kayak seperti ini, gimana nantinya.
“Kenapa lo ketawa!?” bentaknya.
Aku tidak bisa menjawab karena aku sibuk megangi perutku yang sakit. Dia itu aneh sekali, belum tahu apa yang akan dia lukis tapi dia sudah mencetin semua cat warna ke palet. Dia sok sekali, dia bertingkah seperti seorang pelukis profesional. Lagipula, tidak semua warna itu dipakai lagi. Dia meletakkan paletnya di tanah, mengambil batu-batu kecil dan membentangkan lukisan rusakku. Diletakkanya batu-betu kecil tadi diatasnya sehingga dapat terlihat apa yang terlukis di lukisan itu.
Sepertinya dia sedikit kaget. Yang kulukis adalah langit malam saat bulan purnama yang penuh bintang, tapi masih setengah jadi. Jadi lukisanku terlihat aneh, hanya ada warna hitam dan bulan yang juga belum jadi, bintangnya belum kulukis sama sekali. Mungkin dia bingung lukisan apa itu atau bagaimana dia harus melukis lukisan seperti itu.
Dia menoleh ke arahku. “Lukisan apa ini? Gimana caranya ngelukisnya?” Dugaanku benar. Aku hanya tersenyum dan mengangkat bahu. Dia menepuk dahinya, warna hitam membekas, lalu menghela nafas panjang. Dia sudah menerima takdirnya hari ini untuk menjadi seorang pelukis. Lucu sekali.
Saat cowok itu melukis, aku hanya diam sambil mendengarkan musik dari i-pod. Dia tidak bisa diam, ada saja yang dia keluhkan, komentari bahkan berteriak marah. Tadi ada burung yang tidak sengaja, atau mungkin malah sengaja buang kotoran tepat di atas kanvasnya. Dia langsung marah dan mengomel.
”Burung sialan! Nggak tau apa gue lagi sibuk!”
Ya jelas saja omelannya tidak berpengaruh pada burung itu. Apa dia pikir dengan begitu burung itu akan minta maaf padanya? Yang terjadi malah burung itu langsung berkicau merdu. Aku hanya tertawa melihat kejadian itu. Dia lucu sekali.
“Jangan ketawa!” teriaknya.  Langsung saja kuberi dia hadiah tatapan paling sebalku.
“Hei, lo sebenarnya ngelukis apa sih? Apa jangan-jangan lukisan lo ini belum jadi?” tanyanya saat aku membaca buku matematika, sambil terus mendengarkan musik. Aku mendongakkan kepala dan langsung tertawa keras sekali, paling keras hari ini.
“Lo kenapa sih?!”
Tentu saja aku langsung tertawa, siapapun juga akan tertawa. Bayangkan saja, mukanya penuh cat dengan berbagai warna. Sama sekali tidak indah, tapi lucu!
“Kamu liat aja sendiri di cermin.” kataku sambil menghapus air mataku yang  keluar.
“Lukisan lo belum jadi ato emang kayak gini?” tanyanya dengan suara keras.
 Aku melepas earphoneku lalu melihat kanvasnya. Hasilnya bisa dibilang jelek. Tidak perlu kujelasin seperti apa jeleknya, karena aku tidak suka melihatnya. Bagiku lukisan itu jelek, aku tidak suka lukisan jelek.
“Udah, segitu juga udah cukup.” aku memasukkan buku matematika dan i-podku ke dalam tas lalu berdiri. “Kamu beresin semuanya lalu balikin ke orang itu.” aku tunjuk Dani yang masih ada di tempat Mbak Ayu, di samping Awan.  “Lukisannya titipin juga ke dia, namanya Dani, bilang saja dari cewek yang mau manggil dia kakak tapi tidak boleh. Besok aku ambil.”
“Jadi gimana, hutangku udah lunas?” tanyanya berharap.
Aku menggeleng dan berkata, “Tentu saja belum, kamu belum ganti kaosku.”
Wajahnya  kecewa. “Terus?”
“Besok ke sini lagi.”

Jumat, 14 November 2014

I Won't Give Up!!

Halo semuanyaa.....
Apa kabar?
Di sini sudah mulai dingin, bulan depan sudah masuk musim dingin. Kalau sudah seperti ini rasanya males sekali bangun pagi dan mandi hehe... Jangan ditiru ya ^^


Dulu aku pernah cerita tentang mimpi, sekarang aku juga mau cerita soal mimpiku lagi.
Aku tidak malu untuk mengatakan pada dunia bahwa aku ingin menjadi seorang penulis. 
Itu adalah mimpiku dari aku kecil.

Aku tumbuh di sebuah keluarga yang suka membaca. Bapak suka baca koran atau apapun yang berhubungan dengan otomotif. Ibu suka baca majalah, buku kesehatan juga novel seperti karya  Agatha Christie. Kakakku juga seorang bookaholic. Novel, majalah, koran, komik, dia yang paling banyak membaca di rumah kami, apapun dia baca hehe...
Kalau aku bermula dari buku anak-anak, seperti cerita bergambar Donald Bebek, Winnie the Pooh dan Doraemon. Tak lupa juga majalah Bobo. Aku ingat sekali aku dulu suka membaca cerita petualangan Paman Gober mencari harta karun dan sering diganggu Gerombolan Siberat. Sumpah, lucu hihi...
Buku yang aku baca mulai "naik pangkat", aku mulai baca komik yang ditargetkan untuk remaja, seperti Sailormoon. Ketika kelas 6 SD, aku ikut-ikutan membaca novel Harry Potter yang waktu itu lagi booming banget dan aku tersedot masuk ke dunia novel itu. Karena novel itu aku suka dunia magic dan genre fantasi. Aku juga mulai kenal mangaka Jepang yang disebut Clamp. Aku mulai jatuh cinta pada mereka ketika aku membaca manga dan melihat anime Card Captor Sakura. Sejak itu aku mengikuti karya-karya Clamp.
Clamp ini benar-benar mempengaruhi kepalaku, tentang bagaimana membuat sebuah keterkaitan antara cerita yang satu dan yang lainnya, meskipun bukan dalam karya yang sama. Aku juga melihat sisi gelap yang mereka sisipkan di karya mereka. Sebenarnya memang terlihat gelap, tapi menurutku mereka ingin menunjukkan bahwa apa yang mereka tampilkan itu, adalah hal yang benar-benar terjadi di dunia nyata.
Waktu SMP aku masih suka baca komik-komik Donald Bebek, majalah atau tabloid untuk remaja. Akhir SMP aku lebih tertarik untuk membaca novel, khususnya novel untuk remaja yang isinya tentang cinta monyet. Maklum, lagi usia puber hehe
Masuk SMA aku lebih gila lagi baca komik dan novel. Segala genre aku baca. Ketika semua temanku pergi maen bersama aku memilih untuk baca novel di rumah. Pernah juga sampai kena marah karena sharian cuma ada di kamar saja hahaha....

Aku yang seorang pembaca ini ingin menambah status sebagai seorang penulis. Jadi tidak hanya menikmati buku tapi juga ingin menciptakan buku. Ingin mengatakan pada dunia semua cerita yang sudah aku buat di kepalaku. Untuk itu aku harus menulis itu semua. Satu persatu kata, kalimat, paragraf.
Semua itu terlihat mudah namun sulit pada prakteknya. 
Aku mulai mnulis cerita remaja kelas 3 SMP, tapi hanya beberapa bagian sudah tidak aku truskan. Ini adalah salah satu penyakit seorang penulis, tidak bisa menyelesaikan sampai akhir cerita mereka. SMA aku mulai menulis lagi. Beruntung aku punya teman-teman yang juga suka mmbaca dan menulis. Bahkan salah satu temanku, sahabatku, sudah bisa menerbitkan ceritanya. Selamat ya ^^
Banyak sekali ceritaku yang putus di tengah jalan. Tapi aku terus menulis, aku tidak membuang cerita-ceritaku yang separuh jalan. Aku tidak pernah belajar bagaimana caranya untuk mnulis cerita yang baik, semua aku pelajari pelan-pelan. 

Akhirnya, ketika lulus kuliah, aku bisa menyelesaikan dua naskahku. Aku coba kirim naskahku itu ke sebuah penerbit dan beberapa penerbit lainnya namun sayang sekali aku belum beruntung. Mungkin memang kualitas menulisku kurang bagus.
Tapi aku akan terus mencoba. Aku akan belajar. Aku ingin semua orang bisa sedikit melihat dan merasakan apa yang ada di kepalaku. Seorang penulis itu berbeda. Aku ingin sekali bercerita pada dunia lewat kata-kata. Kalau kalian ingin menjadi seorang penulis pasti tahu apa yang kurasakan.

Aku tidak akan pernah menyerah. Aku akan terus menulis. Ketika akan pergi ke sini, aku terkejut menemukan karya pertamaku yang aku tulis kelas 5 SD. Aku kira sudah hilang entah kemana. Waktu itu aku menulis sebuah cerita yang aku beri judul "Persahabatan" dan hanya aku tulis 3 halaman saja wkwkw...
Aku sadar kualitasku masih jauh dari kata bagus tapi aku akan terus mencoba hingga mimpiku jadi nyata. Aku pernah mimpi, aku masih ingat waktu itu tanggal 19 Maret aku bermimpi, salah satu novelku diterbitkan. Aku tersenyum seharian waktu itu. Sumpah, seperti orang gila.

Kalau berkenan, kunjungi alamat ini ya, aku mulai gabung dengan komunitas penulis di sini. Terima kasih

Aku sudah tidak takut, tidak malu untuk mengatakan pada dunia siapa aku, apa mimpiku. Semoga kalian juga sama. Apapun yang kalian impikan, kejarlah hingga kau dapat meraihnya. Meski jalan untuk itu jauh dan menyakitkan. Tuhan tidak akan melupakan hambaNya yang pantang menyerah. 

Semuanya, semangat yaaaa.... ^^

Sabtu, 08 November 2014

Japan's Surprise episode 3 : Orang Jepang = Orang Madura



Japan’s surprise episode 3

Orang Jepang = Orang Madura

Orang Jepang sama dengan orang Madura?? Yup! Mereka sama! Yang benar saja, mereka sama apanya? Jelas-jelas Jepang dan Madura itu tidak sama. Mereka sama-sama manusia? Sama-sama orang Asia? Hem.. itu juga termasuk dalam kesamaan mereka sih, tapi kali ini yang akan dibahas bukan itu. Kesamaan mereka yang mungkin akan membuat kita mengerutkan kening atau geleng-geleng kepala. Apa kalian sudah dapat ide soal apakah itu?

Aku kasih clue ya...





Bagaimana, sudah tahu apa kesamaan mereka? Betul sekali! Mereka ada kesamaan soal penyebutan warna antara hijau dan biru. Seperti yang kita tahu, orang Madura biasanya menyebut warna hijau dengan biru. Orang Jepang pun sama, menyebut warna hijau dengan biru.

Dulu waktu masih sekolah di Indonesia, aku baru tahu kalau orang Jepang menyebut apel hijau dengan sebutan 青りんご(ao ringo) yang berarti apel biru. Tuh khan, sama hehehe...  Bagi orang Jepang lampu rambu lalu lintas juga berwarna biru bukan hijau. Kalau ada di sini pasti akan sering dengar mereka bilang, “Udah biru tuh, ayo nyebrang.”

Ada satu kejadian yang bikin aku terheran-heran tentang hal ini. Ketika aku アルバイト(arubaito) atau part time di sebuah 弁当屋 (bentouya), toko bekal makanan, salah satu temanku bilang, “Ambilin nori biru itu dong,” Aku langsung mencari apa yang dia minta tapi aku tidak menemukan nori berwarna biru. Lalu aku bilang, “Mana? Gak ada tuh.” Temanku tertawa mendengar jaawabanku. “Itu khan ada di depanmu.” Ketika aku lihat ternyata benar ada nori tapi warnanya hijau. Aku hanya bisa tersenyum pasrah. Ini yang salah penglihatanku atau apaan si... perasaan orang Jepang juga tahu ada warna yang namanya biru. Ketika memilih baju atau kertas mereka juga tahu perbedaan hijau dan biru. Lalu kenapa apel, nori, lampu lalu lintas mereka sebut biru dan bukannya hijau?

    Karena ingin tahu penyebabnya aku browsing di internet dan menemukan statement ini:
Karena warna hijau oleh masyarakat Jepang dianggap warna kesialan. Sedangkan warna keberuntungan adalah merah dan putih. Jangan dikira Jepang tidak mempunyai warna hijau. Karena warna hijau tetap bisa kita temukan di Jepang namun hijau sering kali di baurkan dengan warna-warna lain. Warna “hijau” sebagai warna dasar adalah hal yang sangat tidak lazim atau aneh. Jarang sekali orang melihat sebuah kendaraan berwarna hijau, meskipun hal ini pelan-pelan mulai berubah."

            Lalu, suatu hari, aku berntanya langsung kepada guruku yang orang Jepang. Menurut beliau warna hijau adalah kosa kata baru bagi Orang Jepang. Jaman dahulu warna yang disebut dengan biru dan hijau, keduanya disebut dengan biru. Oleh karena itu orang Jepang menyebut rambu lalu lintas, nori atau apel dengan sebutan biru meskipun aslinya berwarna hijau hehe..

            Baiklah, sampai di sini dulu episode Japan’s surprise kali ini. Sampai ketemu dengan kejutan lainnya yaa.... 
           Terima kasih sudah baca ^^